Thursday, October 24, 2013

Siapa yang akan mewariskan nilai luhur bangsa ini? (Sebuah refleksi atas emansipasi)


Sebuah video yang sederhana sebenarnya, tetapi selesai menonton video itu, saya jadi bertanya-tanya: Apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini dengan emansipasi-nya? Benarkah apa yang sekarang disebut 'emansipasi' adalah seperti yang dimaksud oleh Kartini? 

Banyak ibu bekerja dan menyerahkan pengasuhan anak pada baby sitter. Mereka tak mau ribet mengurus anaknya sendiri, yang memang sebuah pekerjaan yang melelahkan, menyita waktu, tenaga, pikiran, dan bahkan seringkali membuat emosi tinggi. Terlebih, mungkin sebagian beranggapan bahwa ‘mengurus anak’ bukanlah pekerjaan yang keren, nggak ada gengsinya.
Banyak ibu mengejar karir dan menyekolahkan anaknya di full day school. Itu dilakukan sebagai langkah yang dianggap tepat. Sang ibu bekerja, sementara anaknya berada di sekolah dengan pengawasan yang ketat, seharian penuh. Paket full day school menyediakan layanan lengkap, mulai sarana belajar, sarana bermain, tempat tidur, makan siang, snack, sarana ibadah yang memadai, kegiatan ekstra-kurikulier dan berbagai fasilitas lain. Mungkin sebagian berpikir lebih baik begitu, membayar mahal demi anak dan sang ibu bisa tenang bekerja. Terlebih alasan pendidikan sang ibu. Orang tuanya sudah menyekolahkannya tinggi-tinggi, maka dengan bekerja dan menjadi wanita karir-lah cara membalas budi orang tua yang memang tidak ternilai. Agar sekolahnya selama ini tidak sia-sia, alias ada hasilnya.
Tapi apakah pernah ditanya kepada si anak: Apakah anak senang dengan ‘full day school’ ini? Dan kalau pun jawaban anak adalah “iya”, maka sebenarnya ada sesuatu yang hilang dari esensi sebuah keluarga. Bagi sebuah keluarga, seharusnya rumah menjadi pusat dari kegiatan sehari-hari, tempat kembali, kembali dari segala rutinitas pekerjaan dan kegiatan. Ketika anak sudah lebih memilih untuk berada di sekolah ketimbang di rumah, maka sebenarnya ada yang salah dengan rumahnya. Dengan demikian rumah menjadi tidak lebih dari sebuah ‘tempat persinggahan’. Jika hal ini dibiarkan, maka setiap anggota keluarga akan memiliki ’hidupnya sendiri-sendiri’ dan memiliki ‘rumah pengganti’, yang mungkin lebih lazim disebut dengan ‘sekolah’, ‘kantor’, ‘mall’, ‘tempat kerja’, ‘tempat nongkrong’, atau ‘tempat arisan’. Jika tidak segera disadari, bisa jadi perpecahan sebuah keluarga dimulai dari sini. Perpecahan tidak selalu berarti perceraian, ketika anak lebih memilih ‘hidup di luar rumah’ sebenarnya juga merupakan ‘ketidakbersatuan’ sebuah keluarga.
Dan pertanyaan saya berikutnya: Apakah seorang Soekarno dibesarkan oleh ibu yang bekerja sebagai ‘wanita karir’? Lompatan pertanyaan ini muncul begitu saja. Saya berasumsi bahwa tokoh besar ini bukan anak dari seorang wanita karir. Ibunya tentu berperan besar dalam membentuk karakter seorang Soekarno. Sekali lagi ini asumsi, perlu saya telusuri lebih lanjut mengenai hal ini.
Saya tidak menentang wanita bekerja. Wanita bekerja menurut saya adalah boleh jika membawa kebaikan, atau jika meminjam istilah Islam adalah mubah. Tapi waktu haruslah menjadi pertimbangan penting. Waktu dapat diartikan sebagai rentang dalam sehari, atau sebagai saat di mana seorang ibu bisa mulai bekerja. Saya cenderung memulai dari pendekatan kedua, yakni tentang kapan sebaiknya seorang ibu bekerja. Menurut saya, saat yang tepat bagi seorang ibu untuk bekerja adalah sebelum mempunyai anak dan/atau ketika tidak mempunyai anak yang berumur di bawah 6 tahun. Hal ini penting karena masa-masa sebelum 6 tahun adalah masa-masa membangun kedekatan antara anak dan orang tua. Ibu bisa memberikan ASI eksklusif sampai anak berumur 2 tahun, tanpa perlu bingung menyimpannya dalam botol di kulkas. Ibu bisa mengamati perkembangan anak secara langsung, bukan berupa laporan dari baby sitter-nya. Ketika sang ayah sudah disita waktunya untuk pekerjaannya, maka setidaknya ada figur ibu yang menemani si anak. Terlebih untuk menjelaskan kenapa sang ayah tidak bisa menemaninya sepanjang waktu. Saat-saat inilah nilai-nilai kehidupan mulai ditanamkan. Bagaimana menghargai ayah yang bekerja, mengenal kasih sayang yang sebenarnya dari ibu, mengenal ayah dan ibu sebagai figur utama yang akan dijadikan panutan baginya, nilai-nilai agama, sopan santun, kebersihan, dan sebagainya.
‘Ketidakhadiran’ seorang ibu, pada masa-masa sebelum 6 tahun sebenarnya akan dibayar mahal ketika anak beranjak remaja. Anak yang belum tuntas mengenal arti kasih sayang akan mencari sendiri bentuk kasih sayang itu. Mungkin anak akan mendapatkannya dari orang tua temannya, temannya, pacarnya, atau lingkungannya secara umum. Berbahaya adalah jika anak salah memahami arti kasih sayang, misalnya mengartikan kasih sayang yang sebenarnya sebagai kesetiaan kepada pacarnya, yang kemudian bisa berujung pada seks pra nikah. Belum lagi nilai-nilai lain seperti sopan santun dan budi pekerti.
Jika nilai-nilai teresebut tidak ditanamkan sendiri oleh ibu, maka kecil kemungkinan anak akan mendapatkannya dari sumber lain. Guru sudah disibukkan dengan mata pelajaran, silabus, kurikulum, soal ujian, nilai, dan berbagai persoalan kelas atau sekolah. Sudah menjadi terlalu berat bagi seorang guru untuk menjalankan tugasnya sebagai ‘tenaga pendidik’, ketika menjadi ‘tenaga pengajar’ saja sudah kewalahan. Adalah berbeda antara ‘tenaga pendidik’ dan ‘tenaga pengajar’. Sebagai pengajar, guru cukup menyampaikan materi pelajaran sesuai kurikulum dan menyerahkan pada siswa (dan orang tuanya) hal lain di luar pelajaran. Di lain pihak, sebagai pendidik, guru dituntut juga untuk membentuk karakter siswanya, menanamkan nilai dan norma. Tugasnya tidak berhenti hanya sebatas menyampaikan materi, tetapi adalah juga sebagai ‘orang tua pengganti’ bagi siswa selama siswa berada di sekolah.
Kembali lagi pada persoalan emansipasi. Bagaimana dengan pendidikan sang ibu? Tidakkah sia-sia sekolah tinggi hanya untuk mengurus anak? Tidak. Pendidikan berperan penting membentuk pola pikir dan meningkatkan kecerdasan seorang ibu. Hal ini penting, karena kecerdasan ibu-lah akan diturunkan kepada anaknya. Jadi, sekolah tinggi bagi seorang wanita tidak akan pernah sia-sia.
Kemudian apa yang sebenarnya diperjuangkan oleh Kartini? Apa arti dari kesetaraan? Apakah itu berarti kesempatan yang sama? Perlakuan yang sama? Hak dan kewajiban yang sama? Tugas dan fungsi yang sama? Jika kesetaraan diartikan sebagai sama rata, maka itu menyalahi hukum Tuhan. Tuhan menciptakan berbeda antara pria dan wanita. Kesetaraan bisa dicapai hanya dengan perlakuan yang berbeda. Berbeda dalam arti sesuai dengan fitrahnya, dengan asalnya, dengan hakikatnya sebagai pria dan wanita. Keseimbangan bisa dicapai jika pria dan wanita mempunyai fungsi dan peran yang berbeda.
Apalah artinya 'kesetaraan' jika pada akhirnya ada yang menjadi korban: anak. Lantas siapa yang akan mengajarkan nilai luhur bangsa ini? Baby sitter kah? guru di sekolah kah? atau internet? Dengan berat hati saya katakan, bahwa tanggung jawab untuk mewariskan nilai luhur bangsa ini sebenarnya ada di pundak para ibu.

Salam,
Yonathan.

No comments:

Post a Comment